Thursday, December 11, 2008

pengibaran bendera 17082008

Nih Sambungan Pengibaran Bendera di Bawah Laut yg Kemaren Versi Video.



Sengaja filenya gak dikecilin spy kalu mau nonton gak pica tu gambar. Mar depe resiko, badownload lama noh. Ini cuma potongan kecil dari acara kemaren. kalau mau di upload semua, kelamaan. semoga aja ada yg suka... Selamat Bauni

yang mau download silahkan disini : http://www.divshare.com/download/6055183-0c7

Friday, October 17, 2008

Potential Impact of Marine Biotechnology on the Sustainable Development in Indonesia

Summarized by Agustinus R. Uria from:
Ariyanti S. Dewi, Kustiariyah Tarman, and Agustinus R. Uria, 2008. Marine Natural Product: Prospect and Its Potential Impact on the Sustainable Development in Indonesia. Proceeding of Indonesian Students` Scientific Meeting, Delft, the Netherlands, May 2008. (Please click here for the full text in PDF).

Indonesia as the world's largest archipelagic country with 17.508 islands and 81,000 km of coastline is worldwide recognized as being the richest in the world in term of diversity of marine organisms. These resources are massive supplies of food for humans and animals, salt, minerals and oil, construction materials (sand, rock, lime and wood). In particular, this extraordinary biodiversity offers big opportunities and challenges for the discovery of new genes, enzymes, secondary metabolites which might be very useful from both scientific and biomedical perspectives.

However, there is an increasing concern about the coastal and marine resources in Indonesia, because their long term over-exploitation has caused severe environmental degradation. Especially many parts of the coral reef ecosytems are currently under serious threat, mainly due to over-exploitative fishing methods (e.g. the use of toxic chemicals and dynamite), coral mining practices, mangrove removal, and sediment accumulation derived from forest soils degraded by fires. This coral reef degradation not only reduces significantly the opportunities of gaining economic benefits from the exploration of marine natural products, but also can lead to long-term economic hardship for many rural peoples who are mostly dependent on the reef fisheries for their survival and income needs.

Recently, the sustainable use of marine bidiversity through Marine Biotechnology (e.g drug discovery and development program) have attracted much attention, because many scientists believe that recent advances in Biotechnology not only promises economic benefits but also promotes the protection and conservation of marine biodiversity. Some biotechnological innovations has enabled to generate ecologically and environmentally sound approaches, which contribute greatly to the sustainable use of marine biodiversity. This emerging multidicipline is especially interesting to be developed in Indonesia as a tropical country with highly diverse marine resources. Integrating efforts on sustainable utilization of marine natural products, diversity conservation and economic development as well as strengthening relationship among government, public and stakeholders into one program could give social and economical benefits to the local society and Indonesia in general.

One of the recently advanced innovations in Biotechnology is Metagenomics, a powerful approach for gaining access to the genetic potential of uncultured microbial world which account more than 99% in diversity in most environments. Further developmnet of this new approach has enabled the rapid discovery of natural product-encoding biosynthetic pathways from uncultivable microbial consortium both living freely in marine environment and existing in associations with marine invertebrates. Subsequent transfer of them into easily cultured bacteria has allowed the sustainable production of marine drugs. Its integration with mutagenesis even permits creating novel pharmaceutical compounds with largely perdictable structures and truly unique pharmacological profiles.

Since the program of the conversion of marine biodiversity into a clinically-used drug is complicated, lenghty and expensive, a close collaboration among the academic and research institutions, the pharmaceutical companies, and biodiversity-controling governmental agencies representing the source country should be developed. With properly negotiated benefit-sharing agreements, the source country could gain short and long-term benefits from the use of its genetic resources, which may include biodiversity conservation, eco-tourism, scientific infrastructure, technology transfer and education, and monetary royalties. To give significant economic impacts, we suggest that this benefit sharing concept should be initially performed in a small-scale, in this respect the regions where the `owner` communities live. In this term, this could be used as a model at the national level, which could subsequently be applied in other parts of Indonesia with high marine biodiversity. If this concept is developed in a larger scale, we are convinced that this can contribute significantly to the national economical sustainability.

Monday, September 29, 2008

Sebagian Moment Pengibaran Bendera Dibawah Laut 17 Agustus 2008







tujuh belasan yg biasanya dirayakan oleh Masyarakat Indonesia dengan berbagai cara, juga di lakukan oleh Ikatan Sarjana Ilmu Kelautan Unsrat. Mengambil tempat di Perairan Manado, tepatnya di kawasan Manado Convention Center (MCC), ISKU menggelar acara Pengibaran Bendera di Bawah Laut. Diikuti ratusan peserta upacara, acara pengibaran berlangsung dengan hikmat. Mner Farnis Boneka yg bertindak sebagai Pembina Upacara dalam pidatonya mengatakan bahwa Kegiatan seperti ini tidak banyak dilakukan di Indonesia. Dengan mngedepankan Nilai Luhur Kemerdekaan, Mner yg Gaul dengan Mahasiswa ini mengajak Masyarakat untuk lebih peduli dengan lingkungan. Apalagi dalam menyongsong WOC 2009 dan MKPD 2010. Acara ini juga disponsori oleh Harian Manado Post dan diliput beberapa stasiun TV seperti, Trans TV, SCTV, RCTI, ANTV dan Indosiar. Dan Pada sore hari dilanjutkan dengan acara penurun bendera. Danni Oroh selaku ketua ISKU menyambut positif kegiatan ini dan menjadikan Kegiatan Pengibaran Bendera Bawah Laut menjadi Agenda Tahunan ISKU. Akhirnya Acara selesai dengan dibarengi dengan Makan Bersama.

Sunday, September 21, 2008

Pemanfaatan Potensi Laut melalui Bioteknologi Molekuler

Oleh: Agustinus R. Uria (Agus)
Alumni IK angk 94

Seperti kita ketahui bahwa organisme laut mengundang daya tarik ilmiah di antaranya karena fenomena bioekologi unik yang dimilikinya. Misalnya sponge yang tubuhnya lunak ternyata mampu melindungi dirinya dari pemangsa di samping tahan terhadap serangan mikroba dengan cara memproduksi senyawa-senyawa beracun. Selain itu, mikroorganisme tertentu mampu hidup di lingkungan laut yang ekstrim, seperti di dasar perairan dengan tekanan dan suhu yang tinggi (mencapai 200 derajat C) karena enzim-enzimnya yang tahan panas. Terungkapnya peran produk alami di balik munculnya fenomena yang unik seperti ini telah mendorong upaya pencarian dan pengembangan produk alami dari laut sebagai bahan baku kunci dalam berbagai bioindustri, termasuk industri farmasi, pangan, dan pertanian.

Pada prinsipnya, ada tiga hal utama yang perlu dijajaki dalam pengembangan produk laut ke level industri: (i) menemukan produk alami unik dengan nilai potensi komersial tinggi, (ii) memodifikasinya menjadi lebih unggul dalam hal sifat-sifatnya, dan (iii) memproduksinya dalam jumlah yang memadai. Pendekatan yang mendasar untuk mencapai sasaran tersebut adalah menelusuri faktor genetik yang mengendalikan pembentukkan suatu produk target. Kemudian faktor genetika itu dimanipulasi sehingga menghasilkan berbagai turunan produk baru yang lebih unggul, yang biasanya tidak dijumpai di alam. Faktor genetik yang dimaksud adalah gen-gen yang terlibat dalam biosintesis produk alami yang diinginkan.

Bagaimana informasi genetik yang tersimpan dalam gen diubah menjadi produk alami? Hal ini melibatkan sejumlah tingkatan molekuler. Jika produk target dalam bentuk protein atau enzim, tingkatan yang terlibat mencakup: (i) konversi gen menjadi RNA (ribose nucleic acid) yang disebut transkripsi dan (ii) konversi RNA menjadi protein/enzim yang disebut translasi. Jika produk target dalam bentuk metabolit sekunder, tingkatan itu diawali oleh kedua tahap tersebut, dan diikuti oleh serangkaian reaksi enzimatik ke arah pembentukan suatu metabolit sekunder.

Penelusuran gen-gen yang berperan dalam produksi suatu produk alami dapat dilakukan melalui studi Genomika Fungsional. Studi ini diawali dengan menentukan urutan DNA total dari suatu organisme dan diikuti dengan mengungkap makna urutan tersebut. Dalam konteks bioteknologi kelautan, cabang ilmu ini disebut Genomika Fungsional Kelautan, yang digambarkan secara sederhana di artikel: Uria et al, 2004. WPPI 10(7):17-22, http://biotech-uria.synthasite.com/populer-science-and-fun-facts.php. Setelah lokasi gen-gen penyandi biosintesis produk alami diketahui, rentetan gen tersebut dapat diisolasi dengan mudah. Kemudian gen-gen itu dikloning atau diaktifkan di mikroorganisme yang sesuai, sehingga terbentuk produk target dalam jumlah yang nyata. (Tinjauan tentang bagaimana gen-gen dari bakteri laut diisolasi melalui tuntunan genomika fungsional dan diaktifkan di bakteri E. coli dimuat di: Uria et al., 2006, http://biotech-uria.synthasite.com/molecular-enzymology.php).

Bagaimanapun juga, penemuan gen-gen penyandi produk alami dari organisme laut seperti sponge menjadi lebih sulit jika biosintesisnya melibatkan asosiasi atau simbiosis dengan bakteri. Kesulitan ini bertambah jika bakteri itu tidak dapat dibiakkan di laboratorium. Untuk memecahkan masalah ini, akhir-akhir ini berkembang suatu pendekatan baru yang dinamakan Metagenomika. Pendekatan ini mengabungkan kemajuan terkini dalam biologi molekuler dan perkembangan teknologi informasi yang cepat. Prinsip dasar metagenomika untuk penemuan gen-gen potensial dari dunia mikroba laut tanpa melalui pembiakkan digambarkan di: Uria et al, 2005. WPPI 11(7):17-24, http://biotech-uria.synthasite.com/marine-metagenomics.php).

Setelah gen-gen penyandi produk alami diperoleh, komposisi dan urutannya dapat dimanipulasi melalui sejumlah pendekatan biomolekuler guna menghasilkan produk-produk baru yang lebih unggul. Sejumlah pendekatan yang dimaksud umumnya dibagi ke dalam dua kelompok besar, yaitu (i) mutagenesis in situ yang juga dikenal dengan istilah desain protein rasional (rational protein design), dan (ii) mutagenesis acak yang lebih populer disebut evolusi molekuler atau evolusi laboratorium. (Info lebih lanjut tentang mutagenesis ini dalam konteks rekayasa enzim dapat dibaca di artikel: Uria et al., 2006. J. Coastal Development 8(2):53-74, http://biotech-uria.synthasite.com/marine-metagenomics.php).

Saturday, May 24, 2008

Perjalanan 2008

Di pertengahan tahun 2008, Alumni Ilmu & Teknologi Kelautan Unsrat telah memperlebar jaringan dalam penerimaan anggota mailing list. Anggotanya juga telah mencakup teman-teman yang pernah menempuh studi di Ilmu & teknologi Kelautan (atau Ilmu Kelautan) Unsrat namun teman-teman yang tidak sempat menyelesaikan studinya. Keanggotaan juga diperluas kepada para pengajar yang aktif maupun telah pensiun di Ilmu & Teknologi Kelautan Unsrat. Bila ingin mendaftar menjadi anggota mailing list, kirimkan email ke: mailto:alumni_itk_unsrat-subscribe@yahoogroups.com, bersama data diri anda yang menguatkan para moderators untuk menerima anda sebagai anggota mailing list. terima kasih

Monday, October 29, 2007

Kebanggaan alumni

Rentetan kebanggaan terasa di kalangan alumni kelautan Unsrat mendengar kabar beruntun dari almamaternya atas keberhasilan para pentolan ilmu kelautan. Dr. Ir. Gybert Mamuaya, Ing yang adalah salah satu pendiri Ilmu Kelautan Unsrat berhasil mempertahankan disertasi doktoral di bidang Manajemen Pesisir dan Laut. Pada saat yang hampir bersamaan Dr. Ir. Remy Mangindaan, MSc mendapatkan gelar Profesor di bidang Kimia Bahan Hayati Laut dan akhirnya tanggal 29 Oktober 2007, Dr. Ir. Janny D. Kusen, MSc mendapatkan gelar Profesor di bidang Reproduksi Avertebrata Laut. Kebanggaan ini disertai harapan akan keterpaduan untuk membangun dunia kelautan dari salah satu titik di bibir Pasifik.


Selamat!
Foto Dr. Ir. Janny D. Kusen, MSc dan keluarga setelah upacara pengukuhan Guru Besar

Friday, June 15, 2007

Bakudapa sabtu 9 Juni...

Cerita dari Ika tentang acara bakudapa:

Waktu acara baku dapa Sabtu,9 Juni 2007 lumayan yg ada ta kumpul. Kebanyakan angkatan muda, trus ada tamu spesial dari Ternate yang sementara "bertapa" di Bogor. 2 orang dari Bogor datang duluan,so marah2 lantaran org yg ada ba undang ada sadiki telat datang... maklum waktu di Jakarta kan kalo wiken mundur 2x lebih lambat dari hari kerja. Kira2 jam 2 siang baru samua ta kumpul, torang sepakati nimbole makan kalo K'Oza sebagai Ibu Suri blom datang. Yang ada ta kumpul (mulai dr yg tua2) : K'Oza, Jefry Bemba, K'Ine Rogi,Qta,Nancy, Silo,Anto, Levi,Lady, Lony,Widi, Toton dgn Ate (Ate telat datang makanya nda ada depe foto) plus 1 tamu Lady pe pacar kote Lantaran nda banyak depe "Leluhur" makanya torang cuma banyak ba cirita, ba nostalgila waktu jaman kuliah dulu...maklum depe tukang angka cirita merangkap tukang hujat toh ada..Upss sory Bemba ;) Sorry kalo nda ada pembahasan soal kemajuan IK dan sebagainya, qta cuman ada foto copy beberapa itu proposal penanaman bakau dan pembersihan karang kong kase liat pa dorang. Intinya sebagai alumni dorong bersedia membantu biar cuma 1 ato 2 pera..
Blom puas ba kacau di Ambasador torang naik Trans Jakarta ka Monas. Ciritanya torang mo bawa pa Bemba kase liat tu Monas dang... Nyanda samua iko coz Lady,Nancy,Anto dgn Ate so pulang duluan. sampe malam torang di Monas..blom puas lagi di Monas torang pigi di Taman Menteng ba jalan kaki..pokoknya reis kwa ini bitis. Abis dari Taman Menteng sebenarnya torang mo bawa pa Bemba pi Taman Lawang..mar torang tako jang Bemba ba jadi...hahahhaaa nyanda katu baku sedu... Pokoknya seru noh...makase for tamang2 yang so datang,mudah2an lain kali kalo mo baku dapa lebih banyak lagi yg mo ta kumpul. Napa itu torang pe foto-foto waktu ada baku dapa....